Terus saja saya katakan pada diri saya, “Apa yang sesungguhnya kamu inginkan Dwi?” Begitu terus saya ajukan pertanyaan itu.
“Aku pengin pergi ke kota-kota lain. Aku pengin dapat uang jalan. Aku pengin dapat uang tambahan” begitu jawabku. Setelah aku memperoleh jawaban itu, saya katakan, “Oke, kalau kamu memang ingin pergi, jangan malah ‘mengkritik’ orang lain yang sedang pergi. Apa pun yang kamu ingini, tapi kamu kritik terus, tidak akan datang.”
Betul saja, setelah saya ubah pemikiran ingin pergi ke kota-kota lain tanpa harus bersikap negative, tiba-tiba saja saya sangat sering diajak pergi (oleh orang lain bukan bos itu, yang akhirnya ia dipindah…). Demikian banyaknya ajakan untuk pergi hingga saya harus menolak-nolak.
Sejak itu saya belajar sesuatu. Jika saya memperoleh hambatan, halangan, masalah, saya selalu berkata, “Apa yang saya inginkan dari masalah ini.” Begitu saya belajar untuk bertanya dengan pertanyaan itu, tiba-tiba saja masalah itu cepat selesai.
Contoh lain. Waktu itu saya punya mobil yang sering rusak. Ketika rusak, saya dan istri saya sangat sedih. Kesedihan istri saya itu kadang demikian lama sehingga cukup mengganggu saya. Minggu ini mobil rusak, kita perbaiki, kita jadi tenteram. Dua minggu lagi mobil rusak lagi, kita sedih lagi. Begitu berulang-ulang.
Lantas saja saya ajukan pertanyaan perkasa tadi, “Okay, apa yang saya inginkan? Saya tidak ingin menghadapi problem mobil rusak terus. Okay, apa yang saya inginkan? Saya ingin ganti mobil yang lebih baru…” Begitu kami sudah tahu persis apa yang kita inginkan, tanpa kami sadari rejeki kami begitu melimpah sehingga kami bisa mengganti mobil dengan yang jauh lebih baik.
Jadi jika anda menghadapi keruwetan, anda harus belajar ‘mundur’ dari keruwetan itu dan bertanya berulang-ulang, “Apa yang saya inginkan terbaik dari keadaan ini.” Lakukan terus dan anda akan memperoleh jawaban. Setelah itu berkonsentrasilah pada pencapaian apa yang anda inginkan. Apa yang anda lakukan adalah belajar menggunakan otak anda untuk mencapai apa yang sesungguhnya kita inginkan.
Otak kita sifatnya cybernetic yang berarti device yang ditujukan untuk mencapai tujuan. Jadi otak kita dirancang oleh Sang Maha Cerdas agar kita sukses mencapai cita-cita dan tujuan kita. Seringkali karena kita tidak jelas apa yang kita inginkan, otak akan berusaha untuk ‘mencapai’ tujuan-tujuan yang tidak kita kehendaki.
Pemahaman dan praktek belajar mengajukan pertanyaan tadi sudah cukup untuk kita menjadi bijaksana ketika kita menghadapi masalah. Dalam artikel lainnya, insya Allah saya akan membahas peran otak bawah sadar…
* DR. Dwi Suryanto, Ph.D adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya...
|